CROPLIFE TERUS MELAKUKAN EDUKASI TENTANG MITIGASI PESTISIDA PALSU


Highlight !

CropLife Indonesia kembali mengadakan kelas pestisida yang kini mengambil tema "Mitigasi dan Penanggulangan Penyebaran Produk Perlindungan Tanaman Palsu di Indonesia Anti Counterfeiting"

Jakarta (18/4). Pemalsuan obat-obatan pertanian atau produk perlindungan tanaman yang juga dikenal dengan nama pestisida kian marak dari tahun ke tahun. Tahun 2010 MIAP (Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan) mengestimasi kerugian pemerintah Indonesia dari produk palsu dan ilegal pada 12 sektor industri sebesar Rp 37 Triliun, di dalamnya sekitar 15% dari pestisida yang dijual di Indonesia adalah ilegal dan palsu.

 

Peran Kepolisian Resor dalam kaitannya peredaran produk pestisida palsu dan ilegal ini adalah sebagai penegak hukum dan melakukan penyelidikan. Peredaran pestisida palsu dan ilegal diatur dalam UU No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman jika terbukti hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp. 250 juta rupiah, UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan hukuman maksimal penjara 5 tahun atau denda sebesar Rp. 2 Miliar dan UU No 15 Tahun 2001 Tentang Merek dengan hukuman maksimal berupa pidana penjara 4 tahun atau denda Rp. 800 juta rupiah.

 

"Setiap tahun pasti ada 4-5 kasus pemalsuan terjadi di lapangan, dan beberapa sudah ada yang divonis sesuai hukum yang berlaku," Ujar AKBP Sugeng Irianto, Kanit V Subdit I Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim POLRI yang hadir menjadi narasumber pada kelas pestisida yang diadakan oleh CropLife di Hotel Aston, Jakarta Selatan, Rabu (18/4/2018) lalu.

 

Kelas pestisida yang mengambil tema "Mitigasi dan Penanggulangan Penyebaran Produk Perlindungan Tanaman Palsu di Indonesia-Anti Counterfeiting" ini merupakan bagian terakhir dari rangkaian edukasi CropLife yang telah dilaksanakan sejak bulan Februari. "Kami bersama media ingin memberikan informasi yang tepat bagi petani mengenai produk perlindungan tanaman palsu dan ilegal sehingga petani bisa secara bijak memilih dan mengantisispasi terhadap penggunaan pestisida," Ujar Agung.

 

Lebih jauh lagi Agung Kurniawan, Direktur Eksekutif CropLife Indonesia juga menyebutkan bahwa beberapa wilayah di Indonesia sudah termasuk dalam zona merah, salah satunya adalah Brebes. "Zona merah maksudnya sebagai barometer penyebaran pestisida palsu, karena semakin banyak orang menggunakan produk tersebut maka biasanya rentan untuk di palsukan," tambahnya kepada salah satu peserta kelas pestisida yang sebagian besar didominasi oleh wartawan. Sedangkan wilayah lain yang juga disebutkan diantaranya: Subang, Karawang, Jember dan Probolinggo.

 

AKBP Sugeng Irianto pun membenarkan bahwa beberapa laporan yang diterima pada tahun 2016 berasal dari Brebes, Malang dan Solo. Sedangkan 2017 banyak diterima dari Brebes, Sukoharjo, Solo dan Klaten. "Kami membuka lebar akses untuk pelaporan terhadap masalah pemalsuan di lapangan," ujarnya. Dia juga berharap terjadi sinergi dengan semua pihak untuk dapat mendukung validasi laporan agar pelaku pemalsuan dapat segera dilakukan penyidikan dan penindakan. "Kami menunggu dan siap bergerak, apabila laporan itu jelas dan yang melaporkan dapat memberikan kejanggalan," tutupnya.